
Harga komoditas pangan dunia naik 1,6% pada April 2026. FAO catat minyak nabati capai level tertinggi sejak 2022, daging cetak rekor baru akibat krisis energi global.
Harga komoditas pangan dunia kembali naik pada April 2026 untuk bulan ketiga berturut-turut, didorong tingginya biaya energi dan gangguan rantai pasok akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang memperparah tekanan pada pasar pangan global.
FAO mencatat Indeks Harga Pangan rata-rata mencapai 130,7 poin pada April, naik 1,6 persen dari bulan sebelumnya dan 2,0 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menyebut sistem pangan agrifood global masih menunjukkan ketahanan meski menghadapi berbagai tekanan.
Namun ia mengingatkan kenaikan harga minyak nabati yang lebih tajam perlu diwaspadai karena didorong permintaan biofuel yang melonjak seiring harga minyak mentah yang tinggi.
“Terlepas dari gangguan yang terkait dengan krisis di Selat Hormuz, sistem agrifood global terus menunjukkan ketahanan. Harga sereal hanya meningkat secara moderat sejauh ini, didukung oleh stok yang relatif kuat dan pasokan yang memadai dari musim sebelumnya,” kata Torero.
“Namun, minyak nabati mengalami kenaikan harga yang lebih kuat, sebagian besar didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi, yang meningkatkan permintaan biofuel dan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak nabati,” tambahnya.
Indeks Harga Sereal FAO naik 0,8 persen dari Maret dengan harga gandum dunia menguat 0,8 persen akibat kekhawatiran kekeringan di sebagian Amerika Serikat dan curah hujan di bawah rata-rata di Australia.
Kenaikan ini diperparah ekspektasi penurunan penanaman gandum pada 2026 karena petani beralih ke tanaman yang lebih sedikit membutuhkan pupuk di tengah harga pupuk yang terus tinggi.
Harga jagung global ikut naik 0,7 persen didorong pasokan yang lebih ketat secara musiman, cuaca buruk di Brasil, serta permintaan etanol yang kuat seiring harga minyak mentah yang tinggi.
Sebaliknya, harga sorgum dunia turun 4,0 persen akibat melemahnya permintaan impor global dan membaiknya prospek pasokan di negara-negara penghasil utama.
Indeks Harga Beras FAO naik 1,9 persen pada April, didorong kenaikan harga beras Indica dan beras wangi akibat meningkatnya biaya produksi dan pemasaran di sebagian besar negara pengekspor.
“Lonjakan harga minyak mentah dan produk turunannya menjadi pemicu utama kenaikan biaya di rantai pasok beras global,” jelasnya.
Indeks Harga Minyak Nabati FAO melonjak 5,9 persen dari Maret dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2022, dipicu kenaikan harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.
Harga minyak sawit internasional naik untuk bulan kelima berturut-turut, didorong prospek permintaan biofuel yang kuat dan kekhawatiran penurunan produksi di Asia Tenggara dalam beberapa bulan ke depan.
Indeks Harga Daging FAO mencetak rekor tertinggi baru pada April dengan kenaikan 1,2 persen dari Maret dan 6,4 persen dibanding tahun lalu.
Harga daging sapi global memimpin kenaikan didukung ekspor Brasil yang lebih mahal di tengah terbatasnya pasokan sapi siap potong akibat program pembangunan kembali populasi ternak yang masih berjalan.
Di sisi lain, Indeks Harga Susu FAO turun 1,1 persen dari Maret akibat melimpahnya pasokan susu di Uni Eropa dan produksi akhir musim yang lebih kuat dari perkiraan di Oseania.
Indeks Harga Gula juga turun signifikan sebesar 4,7 persen dari Maret dan bahkan anjlok 21,2 persen dibanding tahun lalu, “didorong ekspektasi pasokan global yang melimpah dari Brasil, Tiongkok, dan Thailand.”
FAO juga merevisi naik perkiraan produksi sereal global 2025 menjadi 3.040 juta ton atau meningkat 6,0 persen dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan situasi pasokan yang secara umum masih menguntungkan.
Namun produksi gandum global 2026 diperkirakan turun sekitar 2 persen menjadi 817 juta ton, dengan ketidakpastian yang masih membayangi akibat penutupan Selat Hormuz yang terus mendorong kenaikan biaya energi dan pupuk serta mengancam keterjangkauan input pertanian di masa depan.






