Peneliti BRIN ungkap peluang El Nino Godzilla 2026 sangat kecil. Puncak dampak diprediksi September–Oktober, NTT jadi wilayah paling rentan.
Glasial.id ||| Bayangan kemarau panjang seperti tahun 1997 kembali menghantui. Istilah “Godzilla El Nino” ramai diperbincangkan.
Wajar jika itu memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat Indonesia yang masih menyimpan memori pahit tentang kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan masif. Tapi benarkah El Nino 2026 akan sedahsyat itu?
Namun, Eddy Hermawan, seorang peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakin bahwa kemungkinan terjadinya “Godzilla El Nino” pada tahun ini masih relatif kecil.
“Memang saat ini sedang berkembang isu tentang akan munculnya El Nino yang dikatakan bukan El Nino biasa, tapi super El Nino atau Godzilla El Nino,” kata Eddy.
Baginya, itu seperti istilah “dramatis” — yang merujuk pada kejadian El Nino sangat kuat seperti yang terjadi pada 1997–1998 dan 2015–2016 — dua periode yang meninggalkan luka panjang di banyak negara, termasuk Indonesia.
Dalam dunia klimatologi, El Nino disebut ekstrem atau “Godzilla” ketika anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik melampaui angka 2 derajat Celsius.
Pada kejadian 1997 dan 2015, anomali suhu laut memang berada di kisaran angka tersebut — dan imbasnya terasa hingga ke sudut-sudut paling kering di Nusa Tenggara.
Kondisi El Nino saat ini diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori berdasarkan besarnya anomali suhu laut:
0–0,5: Netral
0,5–1: Lemah
1–1,5: Moderat
1,5–2: Kuat
Di atas 2: Super kuat atau “Godzilla”
Sementara itu, beberapa model prediksi dari Australia memperkirakan anomali suhu pada Oktober 2026 bisa mendekati angka 3.
Angka yang, jika benar terjadi, akan menempatkan Indonesia dalam situasi darurat iklim. Namun Eddy tak terburu-buru menyimpulkan hal yang sama.
“Yang terjadi saat ini masih jauh dari angka dua. Walaupun diprediksi bisa meningkat pada Oktober, sebagian besar model dunia masih menunjukkan kondisi moderat,” ujar Edy.
Ia menegaskan, hanya satu model dari Australia yang memperlihatkan potensi anomali di atas dua, sementara mayoritas model iklim global lain masih berada di bawah ambang batas super El Nino.
Belum Ada Tanda “Mencuri Start”
Salah satu alasan kuat Eddy meragukan kemunculan Godzilla El Nino di tahun ini, yakni tidak adanya gejala yang ia sebut “mencuri start” — sebuah pola pemanasan awal yang justru menjadi tanda pembuka bagi El Nino raksasa di masa lalu.
Pada 1997 dan 2015, pemanasan suhu laut di Pasifik sudah mulai meningkat sejak April. Akibatnya, durasi El Nino berlangsung sangat panjang, mencapai 13 hingga 14 bulan — cukup lama untuk mengeringkan sawah, mematikan sumber air, dan membakar jutaan hektare hutan.
Berbeda dengan kondisi sekarang. Pada Mei 2026 ini, anomali suhu laut masih berada di sekitar 0,5 — jauh dari ambang batas berbahaya.
“Indikasi mencuri start belum muncul. Karena itu probabilitas munculnya Godzilla El Nino menjadi kecil,” kata Eddy.
Faktor waktu menjadi pertimbangan penting. El Nino besar terakhir terjadi pada 2023–2024.
Berdasarkan logika energi alam, peluang munculnya El Nino super ekstrem hanya dalam selang tiga tahun dinilai sangat kecil.
“Alam itu butuh waktu cukup lama untuk mengumpulkan energinya. Dalam waktu tiga tahun tidak cukup kuat untuk menghasilkan El Nino besar,” ujarnya.
Peran Samudra Hindia yang Kerap Terlupakan
Tak banyak yang menyadari bahwa kekuatan El Nino tidak semata-mata ditentukan oleh suhu laut di Pasifik. Samudra Hindia pun punya peran besar melalui fenomena yang dikenal sebagai Indian Ocean Dipole (IOD).
Ketika IOD berada di fase positif, dampak El Nino terhadap Indonesia bisa jauh lebih mematikan — terutama dalam memicu kekeringan yang berkepanjangan.
Pada 1997, nilai IOD mencapai 1,8, memperkuat dampak El Nino yang saat itu juga sudah sangat tinggi. Kombinasi maut itulah yang menjadikan kemarau 1997 begitu panjang dan merusak.
Kondisi 2026, sebaliknya, menunjukkan gambaran yang berbeda. IOD justru cenderung netral.
“IOD enggan meninggalkan fase normal. Artinya dia tidak mendukung lahirnya El Nino Godzilla,” kata Eddy.
Pemodelan dari lembaga meteorologi Australia maupun Jepang bahkan memperkirakan IOD akan tetap normal hingga Oktober 2026 — sebuah sinyal yang, setidaknya untuk saat ini, sedikit melegakan.
Puncak Dampak dan Wilayah Paling Rentan
Meski bukan Godzilla, El Nino 2026 tetap patut diwaspadai. Eddy memperkirakan puncak pengaruhnya di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, akan terjadi pada September hingga Oktober 2026.
Kondisi diperkirakan mulai mereda memasuki November, seiring datangnya Monsun Asia yang membawa uap air dan hujan kembali ke Nusantara.
“November nanti Monsun Asia mulai aktif membawa hujan ke kawasan Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kekeringan dan penurunan curah hujan, tetapi tidak perlu hanyut dalam kepanikan.
Dalam skenario terburuk sekalipun, wilayah yang paling rentan adalah daerah dengan pola hujan monsunal — kawasan yang memiliki perbedaan tegas antara musim hujan dan musim kemarau, di mana dalam setahun hanya ada sekali musim hujan dan sekali musim kering.
“Andaikan ada El Nino Godzilla, maka kawasan yang paling riskan untuk diserang adalah kawasan-kawasan yang bertipe curah hujan monsunal. Kalau itu terjadi maka kawasan yang pertama akan diserang adalah kawasan NTT,” jelas Eddy.
Dari NTT, dampak kekeringan berpotensi menjalar ke NTB, lalu Bali, kemudian Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, sebelum akhirnya melompat ke Sumatera Selatan bagian selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
“Sementara itu, Papua dan Sumatera bagian utara tidak akan tersentuh dengan adanya El Nino Godzilla ini,” imbuhnya.
Kita Perlu Waspada, Bukan Panik
Eddy menyimpulkan, peluang terbesar El Nino 2026 hanya berada pada kategori moderat, dengan anomali suhu laut kemungkinan di kisaran 1 hingga 1,5. “Kesimpulannya, Godzilla El Nino sepertinya tidak bakal muncul di tahun 2026,” ujarnya.
Namun kesimpulan itu bukan berarti izin untuk lengah. Kekeringan moderat pun tetap bisa menekan produksi pangan, mengeringkan embung-embung kecil di pedesaan, dan memukul petani yang hidupnya bergantung pada ritme hujan. El Nino “biasa” yang datang di waktu yang salah tetap bisa terasa luar biasa bagi mereka yang paling rentan.
“Intinya adalah jangan terlalu panik akan terjadinya kemarau panjang seperti tahun 1997–1998 atau 2015–2016,” pesan Eddy — sebuah pengingat bahwa ilmu pengetahuan iklim bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mempersiapkan kita menghadapi El Nino 2026 dengan kepala dingin dan langkah yang tepat.
Sumber: Kompas.com






