Perubahan Iklim Bukan Urusan Besok

Perubahan iklim bukan isu masa depan. Ini krisis hari ini yang butuh sikap tegas, bukan sekadar kepedulian musiman dari kita semua.

Perubahan Iklim Bukan Urusan Besok

Oleh: Mokhtiar Albanjari | Jurnalis dan aktif mendaki gunung

Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang mengintai dari kejauhan. Isu ini sudah seringkali mengetuk pintu rumah kita. Masalahnya, banyak dari kita tidak sadar.

Banjir datang tak terduga. Musim kemarau semakin panjang. Panas semakin menyengat. Ruang-ruang kini terasa sangat gerah. Butuh bukti apalagi agar kita benar-benar percaya bahwa perubahan iklim itu sudah terjadi.

Sayangnya, banyak dari kita masih merespons isu ini dengan cara yang salah. Salah dalam memahami. Gagal untuk mengerti. Bahkan, malah kita kagum dengan video gletser mencair di media sosial.

Antara Tahu dan Peduli: Ada Jurang yang Lebar

Riset yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change (2021) menemukan bahwa mayoritas masyarakat global sebenarnya sudah tahu soal perubahan iklim.

Namun tahu tidak otomatis berubah menjadi tindakan nyata — ada jurang besar antara pengetahuan dan perilaku yang disebut para peneliti sebagai value-action gap.

Fenomena ini terjadi bukan karena manusia pada dasarnya acuh. Ada banyak faktor penyebabnya, rasa bahwa masalah ini terlalu besar untuk ditangani sendiri, jarak psikologis yang membuat ancaman terasa jauh dan abstrak, hingga ketidakpastian tentang apa yang benar-benar bisa dilakukan.

Diskusi soal perubahan iklim sering tersandung pada satu pertanyaan yang seolah tak ada habisnya, “siapa yang paling bertanggung jawab?” Sebagian besar emisi karbon dunia memang dihasilkan oleh industri besar dan korporasi multinasional, bukan dari kantong belanja kita sehari-hari.

Laporan Carbon Disclosure Project (2017) menunjukkan bahwa hanya 100 perusahaan bertanggung jawab atas lebih dari 71% emisi global sejak 1988.

Data ini sering dipakai untuk membenarkan sikap pasif — “untuk apa saya berubah kalau mereka tidak?” — padahal logika itu justru menjebak kita dalam lingkaran ketidakberdayaan.

Memilih untuk tidak peduli karena merasa tidak punya pengaruh, adalah sikap yang hanya bisa diambil oleh mereka yang belum merasakan dampaknya langsung.

Petani di Nusa Tenggara yang gagal panen karena musim hujan bergeser, nelayan di pesisir Jawa yang kehilangan mata pencaharian karena abrasi, atau warga di bantaran sungai yang tiap tahun kebanjiran — mereka tidak punya kemewahan untuk bersikap fatalistik.

Penelitian dari IPCC Sixth Assessment Report (2022) menegaskan bahwa setiap sepersepuluh derajat kenaikan suhu global membawa konsekuensi yang signifikan.

Artinya, setiap langkah kecil yang kita tunda hari ini adalah biaya ekstra yang harus dibayar generasi berikutnya.

Apa yang Kita Butuhkan?

Reaksi berlebihan terhadap perubahan iklim juga tidak bagus.

Climate anxiety — kecemasan berlebih tentang masa depan bumi — semakin banyak dirasakan anak muda. Meski empati itu penting, kecemasan yang berlebihan malah melumpuhkan. Tidak menghasilkan solusi apa pun.

Psikolog Susan Clayton dari College of Wooster dalam studinya (2020) menemukan bahwa narasi yang terlalu berfokus pada bencana justru membuat orang merasa tidak berdaya dan akhirnya memilih untuk menarik diri dari isu ini.

Yang kita butuhkan adalah kejernihan — melihat masalah apa adanya, lalu bergerak dari sana.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita? Pertama, kita perlu berhenti memilih; antara menyangkal masalah atau tenggelam dalam rasa takut.

Kita butuh sikap realistis — mengakui bahwa ini krisis serius, sekaligus percaya bahwa tindakan nyata masih bisa membuat perbedaan.

Kedua, kita harus berhenti menunggu pemerintah atau korporasi bergerak lebih dulu sebelum kita mau melakukan sesuatu.

Perubahan sistemik dan perubahan perilaku individu bukan dua hal yang saling menunggu — keduanya perlu berjalan bersamaan.

Ada perdebatan yang sehat soal ini. Apakah pilihan gaya hidup individu benar-benar berdampak pada krisis skala planet?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Menurut Studi dari University of Oxford (Poore & Nemecek, 2018) menunjukkan bahwa pola makan berbasis tanaman bisa memangkas jejak karbon seseorang hingga 73% dibanding pola makan rata-rata.

Itu bukan angka kecil. Dan ketika jutaan orang membuat pilihan serupa, sinyal pasar yang tercipta juga menekan industri untuk beradaptasi. Tindakan individu bukan solusi tunggal, tapi ia bukan pula omong kosong.

Jika kita memperlakukan perubahan iklim semata-mata hanya isu lingkungan, itu kesalahan besar. Sesungguhnya, isu ini selalu berbicara tentang keadilan sosial, ekonomi, bahkan sering digoreng jadi isu politik.

Mereka yang paling kecil kontribusinya terhadap emisi karbon justru paling keras merasakan dampaknya, seperti negara-negara berkembang, komunitas miskin, dan generasi muda.

Kita tidak bisa bicara soal solusi perubahan iklim tanpa bicara soal keadilan distribusi beban dan tanggung jawab.

Suara Kita di Kotak Suara Itu Penting

Dalam demokrasi, salah satu tindakan paling nyata yang bisa kita lakukan adalah memilih pemimpin yang punya komitmen serius terhadap kebijakan iklim.

Kebijakan energi terbarukan, regulasi emisi industri, perlindungan hutan, dan anggaran adaptasi perubahan iklim semuanya lahir dari keputusan politik.

Masyarakat yang melek isu iklim dan mau menggunakannya sebagai pertimbangan dalam memilih adalah tekanan demokratis yang sangat nyata bagi para pengambil kebijakan. Ini bukan tentang menjadi aktivis garis keras — ini tentang menjadi warga negara yang sadar.

Berhenti Menunggu Momen yang “Tepat”

Ada godaan untuk menunggu teknologi yang lebih canggih, perjanjian internasional yang lebih kuat, atau kesadaran global yang lebih merata sebelum kita mulai bergerak. Tapi perubahan iklim tidak menunggu kita siap.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah menyatakan dengan tegas, “Jendela untuk membatasi pemanasan global di angka 1,5°C semakin sempit, dan setiap tahun penundaan membuat target itu semakin susah dicapai”. Waktu bukan “sekutu” kita dalam hal ini.

Pada akhirnya, perubahan iklim adalah krisis yang kompleks, dan tidak ada satu orang pun yang bisa menyelesaikannya sendirian. Itulah faktanya. Tapi, fakta itu bukan pula alasan untuk diam. Harusnya, itu jadi alasan untuk kita bergerak bersama.

Sikap yang kita butuhkan bukan kesempurnaan ekologis yang obsesif, bukan pula kepasrahan yang berkedok realisme. Yang kita butuhkan adalah berani untuk mengakui masalah. Jenih untuk memilih tindakan. Gigih untuk terus mendorong perubahan.

Mungkin, kita bisa mulai itu dari dapur, dari bilik suara, hingga dari meja negosiasi kebijakan. Karena pada akhirnya, bumi tidak butuh kita menjadi pahlawan. Bumi cuma butuh kita berhenti berpura-pura “bahwa semuanya baik-baik saja.”


ARTIKEL TERKAIT

Kenapa Beruang Madu Bisa Muncul di Perkampungan?
2030 Diprediksi akan Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah
Bagaimana Busa Sabun Bisa Menjadi Senjata Baru Melawan Kebakaran Hutan?
Invasifnya Spesies Ikan Asing Jadi Ancaman Ekosistem Perairan Indonesia

Read Also

Jaringan Gas Rumah Tangga dan Tantangan Penerimaan Masyarakat

Penulis: Charly Simanullang | Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen...

Tanam Kesadaran Menjaga Lingkungan Sejak Anak Masih Bisa Dipeluk

Oleh: Rivo WijayaAktif sebagai jurnalis di Harian Metro Riau KESADARAN MENJAGA LINGKUNGAN bukan...

Melawan Kiamat Iklim dari Teras Rumah

Oleh: Riki AriyantoMahasiswa Pascaserjana, Jurusan Komunikasi, Universitas Riau– Instagram @yuri_polala – KALAU kita...