Oleh: Fadly Ibrahim | Penulis tamu untuk Glasial.id
Dolar naik menembus angka psikologis Rp18.000. Ini adalah situasi yang oleh banyak kalangan disebut sebagai kondisi darurat ekonomi.
Pelemahan rupiah merupakan akumulasi dari berbagai masalah struktural yang selama ini dibiarkan menumpuk tanpa penanganan serius.
“Rupiah di angka Rp18.000 itu bukan kiamat,” kata ekonom senior dari Universitas Riau, Dahlan Tampubolon. “Tapi pengingat bahwa fondasi rumah kita sedang banyak rayap.”
“Pemerintah jangan cuma jadi ‘pemadam kebakaran’, tapi harus menjadi arsitek yang berani merombak struktur ekonomi kita menjadi lebih mandiri,” tegasnya.
Secara fundamental, Dahlan menjelaskan bahwa melemahnya rupiah saat dolar naik ini merupakan akumulasi dari kondisi Interest Rate Parity yang tidak berpihak pada Indonesia.
Tingginya bunga obligasi Amerika Serikat memicu arus modal asing keluar secara massal dari Indonesia menuju instrumen dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.
“Ketika capital outflow lebih deras dari yang masuk, hukum permintaan dan penawaran bekerja tanpa ampun. Dolar makin banyak dicari, rupiah ditinggalkan, ya nilainya anjlok,” jelasnya.
Situas ini mencerminkan bahwa neraca pembayaran Indonesia yang tengah tertekan akibat ketergantungan terlalu lama pada surplus perdagangan komoditas.
Di sisi lain, kebutuhan impor bahan baku industri yang masih sangat tinggi membuat neraca berjalan langsung goyah begitu harga komoditas global bergejolak.
“Ini bukan sekadar fluktuasi harian, tapi ‘bom waktu struktural’ yang selama ini kita abaikan,” tegasnya.
Terkait peran Bank Indonesia, Dahlan mengakui BI sudah bekerja keras lewat instrumen moneter seperti kenaikan suku bunga dan intervensi pasar valuta asing.
Namun ia mengingatkan, mengacu pada teori Impossible Trinity Mundell-Fleming, intervensi moneter tidak akan efektif jika disiplin fiskal pemerintah tidak dijaga ketat.
“Kalau fiskal pemerintah tidak disiplin dan terus memaksakan belanja tidak produktif, intervensi moneter BI itu ibarat menambal bendungan bocor pakai plester. Sebanyak apa pun cadangan devisa kita, bakal terkuras habis,” ujarnya.
Dahlan mendesak pemerintah untuk segera menghentikan ambisi proyek mercusuar yang tidak jelas dampak gandanya bagi ekonomi rakyat kecil di tengah APBN yang sedang terjepit.
Fokus harus dialihkan ke efisiensi belanja yang benar-benar pro-rakyat dan mampu mensubstitusi barang impor, bukan menambah utang untuk proyek yang sekadar mengutamakan citra.
Ia juga mendorong pemutusan ketergantungan kronis pada dolar melalui penerapan serius skema Local Currency Transaction (LCT) dengan mitra dagang utama.
Bagi dunia usaha, Dahlan menegaskan bahwa hedging harus segera menjadi prioritas dan efisiensi proses bisnis wajib ditingkatkan agar mampu bertahan di tengah tekanan kurs yang belum menunjukkan tanda mereda.
“Kalau mau ekonomi kita kuat, jalankan Ekonomi Pancasila yang sesungguhnya, fokus pada sektor riil, hilirisasi yang serius, dan disiplin fiskal yang ketat,” ujar Dahlan.
“Tanpa itu, kita akan terus menjadi bulan-bulanan spekulan global setiap kali mereka batuk di Wall Street. Bangsa yang besar tidak lahir dari kemudahan, tapi dari ujian yang berhasil mereka menangkan.”




