Indonesia Gandeng Perusahaan China Kelola Air Limbah Industri

Indonesia Gandeng Perusahaan China Kelola Air Limbah Industri
Limbah industri yang dialirkan ke sungai ||| Foto: Akaratwimages, Canva.

Kemenperin gandeng perusahaan China olah air limbah di 5 kawasan industri. Teknologi DIAB diklaim hemat biaya 20% dan lahan hingga 60%.

Glasial.id||| Pemerintah lewat Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan asal China, Qiaoyin City Management Co., Ltd. Mereka akan menggarap proyek percontohan pengolahan air baku dan air limbah di lima kawasan industri Indonesia.

Antara pemerintah dengan perusahaan sudah MoU, yang melibatkan Kemenperin, Qiaoyin, dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia atau HKI di Jakarta, pada 11 Mei 2026.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan lima kawasan industri akan dipilih sebagai lokasi pilot project penerapan teknologi pengolahan air dan limbah terpadu.

Pemerintah tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang andal secara teknis, tetapi juga model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan di lapangan.

“Akan ada lima kawasan industri yang menjadi pilot project dalam kerja sama ini, tetapi kami tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang baik, tetapi juga mencari model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan,” ujar Agus dalam keterangan resminya.

Kerja sama ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air dan limbah industri seiring pesatnya ekspansi kawasan industri nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Kemenperin menilai pengembangan sistem pengolahan air terpadu sudah menjadi kebutuhan infrastruktur mendesak untuk menopang industri hijau dan target penurunan emisi sektor manufaktur.

Berdasarkan data Kemenperin, hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare yang tersebar di berbagai wilayah.

Kawasan tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai investasi mencapai Rp6.744,58 triliun serta menyerap 2,35 juta tenaga kerja, angka yang mencerminkan betapa besarnya skala industri nasional yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

Dalam proyek percontohan ini, Qiaoyin menawarkan teknologi bernama Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor atau DIAB untuk pengolahan limbah industri secara lebih efisien.

Teknologi ini diklaim mampu menekan biaya pembangunan instalasi pengolahan limbah sekaligus mengurangi kebutuhan lahan dibandingkan sistem konvensional yang selama ini digunakan.

Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd., Wan Yiming, merinci bahwa teknologi DIAB mampu memangkas biaya pembangunan fasilitas pengolahan limbah hingga 20 persen.

Selain itu, sistem ini juga menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen berkat penggunaan sistem prefabrikasi yang mempercepat proses pembangunan fasilitas secara signifikan.

“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat,” ujar Wan Yiming saat penandatanganan nota kesepahaman.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, turut menegaskan bahwa penerapan teknologi pengolahan air dan limbah semakin penting bagi kawasan industri Indonesia saat ini.

Kebutuhan ini semakin mendesak terutama untuk memenuhi standar keberlanjutan yang kini menjadi syarat utama di pasar global yang semakin ketat.

Tanpa sistem pengelolaan limbah yang memadai, kawasan industri Indonesia berisiko kehilangan daya saing di mata investor dan pembeli internasional yang semakin mengutamakan aspek lingkungan. Kehadiran teknologi seperti DIAB dinilai sebagai jawaban nyata atas tantangan tersebut.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin, Tri Supondy, berharap proyek percontohan ini tidak berhenti di tahap awal saja. Ia mendorong agar kerja sama ini berlanjut ke tahap investasi penuh dan transfer teknologi yang memberi manfaat jangka panjang bagi industri nasional.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada tahap pilot project saja, tetapi juga mampu mendorong investasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional, serta pengembangan industri berbasis inovasi di Indonesia,” kata Tri.


ARTIKEL TERKAIT

Kenapa Beruang Madu Bisa Muncul di Perkampungan?
2030 Diprediksi akan Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah
Bagaimana Busa Sabun Bisa Menjadi Senjata Baru Melawan Kebakaran Hutan?
Invasifnya Spesies Ikan Asing Jadi Ancaman Ekosistem Perairan Indonesia

Read Also

Bagaimana Busa Sabun Bisa Menjadi Senjata Baru Melawan Kebakaran Hutan?

Di Jepang, lonjakan kasus kebakaran yang semakin parah, mendorong para ilmuwan dan pelaku...

Bulan Jadi Prioritas Eksplorasi Antariksa Sebelum Mars

Eksplorasi Bulan dianggap lebih realistis dibanding asteroid sebagai tahap awal infrastruktur sebelum misi...

Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Momentum HUT ke-61

Di HUT ke-61, PGN perkuat ketahanan energi nasional lewat ekspansi LNG, pipa gas...